KUALA SIMPANG – Sedikitnya 100 orang penari remaja putri yang ada dari sejumlah sanggar seni tari di Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (24/5) diseleksi oleh Dewan Kesenian Aceh Tamiang (DKAT) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Karang Baru. Penari terbaik nantinya akan ditampilkan pada festival tari taman budaya se-Indonesia yang akan berlangsung di Padang, Sumatera Barat akhir Juli 2009 mendatang. Sekretaris Umum (Sekum) DKAT, M Hanafiah alias Agam Fawirsa kepada Serambi, Jumat (22/5) mengatakan seleksi yang dilakukan untuk mendapatkan penari yang benar-benar berbakat seni tari.

“Penari yang diperoleh dari hasil seleksi, akan ditampilkan pada festival tari taman budaya se-Indonesia yang akan berlangsung di Padang, Sumatera Barat akhir Juli 2009 mendatang,” kata Agam. Dijelaskannya, selama ini penari-penari dari Aceh Tamiang yang tampil dalam event-event seni tari di daerah maupun di luar daerah selalu merupakan penari yang sama dari waktu ke waktu. Artinya penari yang tampil terkesan tidak ada penari lain di Aceh Tamiang. Karena itu pihaknya ingin mengetahui apakah memang hanya itu-itu saja penari yang ada di Aceh Tamiang.

“Ternyata dari pendaftaran yang dibuka untuk menyeleksi penari, sudah seratusan orang penari yang mendaftar ingin diseleksi,” katanya. Menurut Agam, banyaknya penari yang mendaftar ingin diseleksi menandakan bahwa keinginan para penari ingin mengembangkan bakat seni tarinya harus ditampung dan diuji kebolehannya. Tim penyeleksi akan diminta dari sejumlah ketua sanggar dan pihak dinas kebudayaan yang ada di Aceh Tamiang. “Kita akan berupaya seoptimal mungkin untuk menyeleksi para penari yang terbaik,“ kata Agam.

Dijelaskan Agam, penari itu, tidak cukup hanya bermodalkan paras yang cantik, tapi juga harus dilihat dari sisi gerak dan bakatnya sebagai penari. Namun boleh dikatagorikan bahwa paras yang cantik merupakan modal utama untuk menjadi seorang penari. Karena itu perlu diseleksi mulai dari kecantikan parasnya, ideal tubuhnya dan harmonisasi gerak serta bakatnya dalam menguasai tarian. Secara umum para penari hasil seleksi yang dilakukan akan dijadikan aset untuk tampil dalam arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang akan berlangsung medio Agustus 2009 di Banda Aceh. Biaya seleksi para penari ditanggung pihak DKAT sesuai dengan kebutuhan seleksi yang diperlukan. Diharapkan hasil seleksi yang akan berlangsung menghasilkan penari yang berbakat dan sempurna untuk bisa ditonton keberadaannya dalam pagelaran tari di daerah maupun di luar daerah.(an)

sumber : Serambi Indonesia

KUALA SIMPANG – Sebanyak 104 remaja putri Tamiang berebut menjadi penari yang akan mewakili Aceh Tamiang untuk tampil dalam even Peukan Kebudayaan Aceh (PKA), nasional dan internasional. Seleksi seratusan penari tersebut dilakukan secara terbuka oleh Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Aceh Tamiang di gedung SKB, Minggu (24/5)

Sekretaris DKA Aceh Tamiang, Muhammad Hanfiah kepada Serambi, senin (24/5) mengatakan, seleksi penari yang mewakili Tamiang bagian dari keterbukaan perekutan anggota tari yang selama ini terkesan kreativitas dan potensi remaja putri terbelenggu atau terpasung oleh pihak tertentu yang tidak ingin Tamiang maju. “DKA Tamiang memberikan kesempatan bagi remaja putri untuk mengikuti audisi pembentukan tim tari Kabupaten Aceh Tamiang yang dipersiapkan untuk Pekan Kebudayaan Aceh ( PKA) V dan berbagai event lainnya, baik yang berlangsung di Aceh maupun luar Aceh,” ujarnya.

Peserta merupakan utusan dari sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMA serta beberapa sanggar seni tari yang ada di Tamiang. Seleksi pembentukan tim tari tersebut dinilai dewan juri yang ditetapkan DKA Tamiang, Rahawati (mantan Kasie Kebudayaan di Kantor Bupati Aceh Tamiang), Safinah Arham dan Harlini (keduanya Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tamiang).

Sejumlah peserta yang ikut seleksi mengungkapkan kegembiraanya karena diberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi tari. Sebab, selama ini pembentukan tim tari tanpa melalui seleksi yang terbuka untuk umum, sehingga terkesan mengekang bakat dan kemampuan remaja untuk ikut tampil dalam tim tari kabupaten.

“Terpilih atau tidak itu bukan persoalan. Bagi kami yang penting ada seleksi dan tidak main sembunyi-sembunyi serta pilih kasih sesuka hati pengurus dan pelatih tari yang tertutup agar orang lain tidak boleh menunjukkan bakat dan kemampuan di bidang seni tari,” ungkap Hanafian mengutip pendapat sejumlah peserta audisi. Pengumuman calon penari yang lulus seleksi, Selasa (26/5) hari ini. Nomor peserta seleksi yang dinyatakan lulus sebagai calon penari akan diumumkan dan ditempel secara terbuka di Sekretariat DKA Tamiang di Komplek SKB Karang Baru.(md)

sumber : serambi indonesia

21 July 2009, 09:37 Nanggroe Administrator
KUALA SIMPANG – Pagelaran seni dan budaya akan digelar dalam rangka hari jadi Aceh Tamiang yang ke-6 tahun di aula DPRD Aceh Tamiang, Jumat (24/7) malam. Seorang Panitia Pelaksana Pagelaran Seni, Harlini kepada Serambi Senin (21/7) mengatakan, pagelaran hari jadi Aceh Tamiang merupakan rangkaian akhir dari beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan.

Di antaranya, pada hari jadi yang keenam tahun 2 Juli 2009, telah dilaksanakan upacara seluruh jajaran PNS, tokoh masyarakat dan organisasi pemuda dan masa. Selanjutnya keesokan harinya setelah pelaksanaan upacara khusus memperingati hari jadi tersebut, dilaksanakan kegiatan keagamaan berupa zikir bersama dan ceramah agama Islam. Kemudian beberapa kegiatan olah raga masyarakat juga telah dilakukan. Sementara rangkaian akhir dari upaya memeriahkan hari jadi Aceh Tamiang pada Jumat (24/7) malam akan berlangsung malam resepsi dengan melaksanakan pagelaran seni dan budaya.

Pagelaran seni dan budaya yang akan berlangsung terbuka untuk masyarakat luas dan jajaran PNS di Pemkab Aceh Tamiang. Selain dihadiri masyarakat luas yang ada di Aceh Tamiang, juga diundang sejumlah tokoh masyarakat Aceh Tamiang yang berdomisili di luar daerah. Kehadiran warga yang di luar daerah sangat diharapkan jika berkenan. Kata Harlini, kegiatan seni dan budaya yang akan digelar berupa tari-tari tradisonal maupun kreasi baru.

Ditambahkan Harlini, secara umum pagelaran seni budaya yang akan digelar dalam rangka memeriahkan hari jadi Aceh Tamiang yang keenam itu, nantinya akan ditampilkan dalam arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke V di Banda Aceh. “Jadi pagelaran seni budaya yang kami gelar dalam rangka hari jadi Aceh Tamiang merupakan ajang pemanasan untuk tampil di PKA V,” kata Harlini. Tarian yang akan ditampilkan antara lain, tarian zapin, elang lekak, ula-ula lembing, tari piring, seudati inong dan tob daboeh.(an)

sumber : serambi indonesia

KUALA SIMPANG – Kesenian tradisional Aceh Tamiang, silat pelintau direncanakan akan ditampilkan untuk menggoyang pentas PKA V 2009 yang digelar di Banda Aceh, Agustus nanti. Kesenian tradisional yang biasa dipertontonkan dalam acara pesta pernikahan itu diharapkan akan mendapat simpati penonton.

“Diperkirakan silat pelintau yang biasa ditampilkan dalam kegiatan hiburan pesta pernikahan dan pesta sunatan akan menjadi tontonan khusus yang menarik karena gerakannya yang unik dan menantang bahaya,” kata pelatih silat pelintau Tamiang, Nukman kepada Serambi, Selasa (7/7).

Namun diingatan Nukman, penampilan silat pelintau yang menggunakan pedang, toya, dan pisau serta diiringi dengan tari piring hanya merupakan hiburan yang tidak ada “jampi-jampi”. Karena itu diharapkan kepada penonton dan pihak lain yang menyaksikan hendaknya tak perlu melakukan upaya yang bisa menciderai pesilat dengan cara yang menggunakan ilmu-ilmu (magic).

Apalagi seni silat pelintau ini hanya merupakan hiburan tradisional yang dimainkan anak remaja yang masih belia. “Tujuannya hanya sebagai hiburan untuk menampilkan khasanah budaya yang ada di Aceh Tamiang,” katanya. Silat pelintau akan dirangkaikan dengan tarian piring yang disebut “Tari Inei” dengan menampilkan remaja putri dan remaja putra di antara para pesilat lintau yang saling tebas pedang dan saling pukul kayu toya yang dipersiapkan.

Masih menurut Nukman, silat pelintau bukan merupakan olah raga pencak silat yang dipertandingkan, tapi hanya merupakan seni tradisional yang dipagelarkan dalam suatu kegiatan hiburan secara khusus. Gerakan silat pelintau diiringi dengan nyanyian dan musik tradisional yang mengalunkan dominan irama gendang seperti “tari debus” (tob daboeh), tapi tidak menghujamkan senjata tajam ke tubuh sendiri. Senjata berupa pedang, pisau dan toya sebagai senjata untuk saling bertarung satu dengan yang lainnya.

Penonton akan melihat gerakan silat pelintau yang terkesan sebuah perkelahian benaran dengan menggunakan senjata tajam. Dalam suasana tegang penonton juga secara bersamaan menikmati pula gerakan tarian dari remaja putri di antara perkelahian menggunakan senjata tajam tersebut. “Karena itu silat pelintau hanyalah sebuah hiburan yang mengkombinasikan kekerasan dan kelembutan,” urainya.(an)

sumber : serambi indonesia

KUALA SIMPANG – Menghindari main comot terhadap penari yang akan mewakili Aceh Tamiang dalam Peukan Kebudayaan Aceh (PKA) dan berbagai even nasional dan internasional, Dewan Kesenian Aceh Tamiang (DKAT) melakukan seleksi terhadap para penari dan penyanyi dari 12 kecamatan yang ada di Tamiang

Sekretaris Dewan Kesenian Aceh Tamiang, Muhammad Hanafiah kepada Serambi, Kamis (23/4) mengatakan, mereka yang diseleksi akan dibawa untuk mengikuti berbagai even budaya yang akan digelar di Banda Aceh, Padang, dan Palembang.Selain menyeleksi penari dan penyanyi, pihaknya juga akan menyeleksi pemusik dan pelatih tari sehingga peserta yang dilatih dan tampil betul-betul berkualitas. “Sistem lama yang main comot sana sini yang selama ini dipraktekkan kita tinggalkan jauh-jauh,” ujarnya.

Seleksi tersebut dilakukan untuk membentuk tim pagelaran seni budaya Tamiang terutama dalam mengikuti Pekan Kebudayaan Aceh ke 5 yang akan digelar pada bulan Agustus 2009 di Banda Aceh. Setelah tampil di Banda Aceh, peserta yang telah diseleksi juga akan dikirim ke Padang untuk mengikuti Festival Seni Budaya Legendaris (Seni Tari Tradisi) pada Juni 2009 mendatang. Kemudian bersambung ke Palembang (Sumsel) pada bulan Juli 2009 guna mengikuti pagelaran Seni Budaya Melayu se Indonesia. Dalam hal ini peserta dari Aceh Tamiang merupakan wakil dari provinsi NAD. ”Bagi generasi muda yakni remaja putri yang berminat, baik penari, pemusik dan penyanyi agar mendaftarkan diri ke Sekretariat Dewan Kesenian Aceh Tamiang (DKAT) atau di gedung SKB Karang Baru, Aceh Tamiang mulai hari Senin tanggal 27 hingga 30 April 2009,” ujarnya.(md)

sumber : serambi indonesia

KUALA SIMPANG – Kabupaten Aceh Tamiang dipastikan akan ikut berpartisipasi pada arena PKA VIII yang akan digelar Agustus 2009 nanti. Aceh Tamiang akan menyuguhkan budaya Tamiang dalam ajang tersebut.

Sekretaris Panitia PKA Aceh Tamiang, Amirudin Y kepada Serambi, Selasa (24/3), guna memeriahkan acara tersebut Pemkab Aceh Tamiang telah membentuk Pantia PKA Aceh Tamiang. Panitia ini akan bertugas menggelar keberadaan kebudayaan Aceh Tamiang di arena PKA yang akan disaksikan masyarakat.

Pagelaran kebudayaan yang akan dipersaksikan menyangkut seni tari dari Aceh Tamiang yang mengombinasikan tarian Melayu, Aceh, Cina, Jawa, Gayo dan berbagai tarian etnis lainnya. Perpaduan berbagai etnis budaya ini, kata Amiruddin, menandakan Aceh Tamiang sebagai bagian dari wilayah Provinsi NAD yang sangat terbuka bagi siapapun. Bahkan gambaran itu akan dipersaksikan dalam beberapa pagelaran budaya.

Begitupun secara umum peran budaya Melayu akan mewarnai keberadaan budaya yang akan digelar. Baik seni tari, musik, makanan tradisional, perkawinan adat dan sejumlah pernik-pernik seni lainnya yang akan ditampilkan. Sedikitnya akan terlibat sekitar 150 orang pelaku seni dan budaya yang berasal dari Aceh Tamiang dalam pagelaran PKA yang kini sudah dipersiapkan secara matang.

Secara terpisah Sekretaris Dewan Kesenian Aceh Tamiang (DKAT), M Hanafiah yang akrab dipanggil Agam Fawirsa kepada Serambi mengatakan pihaknya akan menyeleksi secara umum pagelaran tari yang akan ditampilkan di PKA. Baik penarinya, tariannya, pelatih, maupun sanggar mana yang akan ditampilkan. Karena, katanya, pagelaran seni budaya yang ditampilkan pada arena PKA tidak boleh “cilet-cilet”.

Kata Agam, dipastikan semua daerah mau tampil lebih eklusif memperkenalkan budaya daerahnya meskipun sama-sama berasal dari Aceh. Apalagi Aceh Tamiang merupakan daerah yang keberdaannya lebih dekat dengan Sumatera Utara (Sumut). Sehingga warna dari budaya dan seni yang akan ditampilkan pasti sedikit banyaknya diwarnai dengan budaya Melayu, Jawa, Aceh, Gayo, dan bahkan Cina.

Menurut Agam, perpaduan seni budaya itu karena memang warga di Aceh Tamiang tidak didominasi oleh suku Melayu. Bahkan diperkirakan sekitar 50 persen penduduk Aceh Tamiang adalah etnis Jawa. Kemudian Melayu, Aceh, Padang, Cina dan bahkan ada juga suku dari India yang hidup di Aceh Tamiang hingga saat ini.

Dengan demikian, Agam mengaku telah melakukan pembicaraan secara serius dengan panitia PKA Aceh Tamiang untuk pagelaran seni budaya yang akan digelar di PKA VIII di Banda Aceh awal Agustus 2009 mendatang. Kata Agam, kurun waktu persiapan menjelang pelaksanaan PKA meskipun masih ada sekitar empat bulan lebih lagi, tapi persiapan untuk pagelaran seni budaya itu harus dilakukan secara terprogram. (an)

Sumber : Serambi Indonesia

KUALA SIMPANG – Utang PDAM Tamiang kepada Departemen Kauangan RI membengkak dari Rp 8 miliar menjadi Rp 32 miliar karena tidak pernah dicicil pembayarannya. Utang tersebut merupakan utang warisan masa lalu, ketika Aceh Tamiang belum berpisah dari Kabupaten Aceh Timur.

Direktur PDAM Tamiang, Suheri SE kepada Serambi, Rabu (15/7) mengatakan, utang tersebut merupakan utang pinjaman pemerintah daerah pada Departemen Keuangan RI yang dilakukan Pemkab Aceh Timur sebelum pemekaran kabupaten. Pasca pemekaran, Pemkab Aceh Timur menyerahkan seluruh aset PDAM yang berada di Kabupaten Tamiang termasuk utang. “Uang pinjaman tersebut digunakan untuk membangun instalasi pengolahan air di Kecamatan Karang Baru,” ujarnya.

Karena tidak pernah cicil, uang pinjaman tersebut membengkak dari Rp 8 miliar menjadi Rp 32 milyar. “Beberapa waktu lalu pada saat turun tim audit dari BPKP, utang sebesar Rp 32 miliar kita klarifikasi karena bukan milik Tamiang seluruhnya, ” ujar Heri, sambil menambahkan, dalam hitungan aset tersebut termasuk di dalamnya instalasi di Sungai Lung Kota Langsa. Hingga sekarang PDAM Tamiang belum melakukan cicilan untuk pembayaran utang yang membengkak itu, karena kondisi keuangan perusahaan yang belum memungkinkan, di samping pengalihan aset baru mereka terima.

Defisit
Dikatakan Heri, sebelum dinaikkan tarif, pemasukan PDAM Rp 250 juta per bulan. Sedangkan pengeluaran mencapai Rp 346 juta per bulan, sehingga defisit Rp 96 juta tiap bulan. “Pengeluaran tersebut selain untuk operasional dan pembayaran listrik, juga untuk membayar uang pensiun karyawan PDAM,” ujarnya.

Sedangkan utang rekening listrik PDAM setelah dibayar oleh pemkab Tamiang sebesar Rp 1,2 miliar masih menunggak Rp 200 juta. Heri mengatakan, untuk membayar utang warisan, pihaknya akan meminta keringanan penghapusan bunga dan uang administrasi kepada pemerintah pusat, sehingga utang yang dibayar hanya pinjaman pokok sebesar Rp 8 miliar.

“Kita sudah mempelajari, ada atauran hukum yang meringankan pinjaman tersebut, Kepmen nomor 120 tahun 2008, namun dengan syarat perusahaan bersedia diaudit, dan PDAM Tamiang siap diaudit,” ujarnya. Kondisi lainnya yang dialami PDAM Tamiang, kata Heri, instalasi jaringan distribusi air di Kota Kuala Simpang sepanjang 8.000 meter yang terbuat dari pipa besi sudah berkarat. Untuk memaksimalkan pelayanan kepada pelanggan, pipa tersebut harus diganti.

Dampak dari berkaratnya pipa, membuat aliran air terhambat karena diameter pipa mengecil akibatnya pelanggan mengeluhkan. “Pipa instalasi pendistribusian air ke Kota Kuala Simpang yang sudah ada sejak tahun 1986 sepanjang 8.000 meter terbuat dari besi sudah berkarat,” katanya. Desa yang tak bisa dicapai pendistribusian air PDAM meliputi, Desa Paya Bedi, Desa Bukit Tempurung, dan Desa Perdamaian. Sehingga pelanggan di tiga desa tersebut harus kecewa karena belum bisa memperoleh air bersih dari PDAM Tirta Tamiang.

Pihaknya sudah mengusulkan ke pemerintah propinsi agar membantu pipa sepanjang 8.000 meter menggantikan pipa besi yang sudah berkarat sehingga air mudah mengalir ke rumah warga. Jumlah pelanggan PDAM Tamiang mencapai 6.914 orang yang tersebar di sejumlah kecamatan.(md)

kutip : Serambi Indonesia

KUALA SIMPANG – Pihak kepalisian di Aceh Tamiang, dilaporkan telah membentuk dan menyebarkan tiga tim untuk memburu komplotan perampok yang menembak Doni Patria Syahputra (29), staf Bank Mandiri Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Kamis (23/7) lalu.

Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Drs Hariyanta, kepada Serambi, Jumat (24/7) mengatakan, sejumlah anggota polisi telah disebarkan untuk memburu perampok yang diduga pada malam kajadian mengendarai sepeda motor jenis Kawasaki Ninja. “Polisi terus melakukan evaluasi dan pengembangan di lapangan,” katanya.

Untuk memburu tersangka, pihaknya juga sudah membentuk tiga unit tim, penyelidikan, penyidikan dan penindakan untuk pengembangan kasus tersebut. Mengenai pelaku, kapolres belum mau menduga karena sedang dalam penyelidikan. Sebelumnya dilaporkan bahwa untuk mendapatkan uang haram dengan cara menembak korban terjadi Kamis (23/7) pukul 00.40 WIB di Aceh Tamiang. Korbannya adalah Doni Patria Syahputra (29), pegawai Bank Mandiri, warga Dusun Setia, Desa Kesehatan, Tamiang. Meski didor, korban masih bertahan hidup dan sekarang dirawat intensif di Medan, Sumatera Utara.

Peristiwa penembakan itu terjadi hanya selang 12 jam dari kasus perampokan yang menimpa Mustafa (48), warga Blang Paseh, Kecamatan Langsa Kota, Rabu (22/7) siang. Dalam kasus perampokan uang dari dalam mobil korban itu, kawanan perampok berhasil melarikan uang tunai milik korban Rp 100 juta. Menurut Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Drs Hariyanta, kepada Serambi, Kamis (23/7), korban Doni Patria dan adiknya Taufik (25) yang bertugas sebagai pengawas SPBU Seumadam milik abangnya, Toto, dirampok saat hendak memasuki pekarangan rumah mereka naik mobil di Desa Kesehatan. Kedua bersaudara itu baru saja kembali dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Seumadam milik abang mereka dengan membawa uang Rp 42 juta hasil penjualan minyak.

Sesampai di depan rumah, korban diancam dengan senjata api laras pendek (pistol) oleh empat pelaku. Doni Patria didor perampok yang bersepeda motor (sepmor) jenis Ninja. “Saat ini polisi sedang memburu keempat tersangka,” ujar Kapolres. Informasi yang diperoleh Serambi kemarin, setiap malam Doni mengambil uang hasil penjualan minyak SPBU milik abangnya untuk dibawa pulang ke rumah dan menurut rencana, esoknya akan disetorkan ke bank. Diduga, para pelaku mengintai dan menguntit korban yang bersama adiknya, Taufik, mengendarai mobil Katana BK 1774 EZ itu sampai ke depan rumahnya.

Doni diperkirakan ditembak saat baru turun dari mobil, ketika hendak membuka pintu pagar rumah. Sementara Taufik yang masih berada di dalam mobil luput dari aksi kekerasan perampok. Ia hanya berteriak histeris dan meminta tolong kepada warga sekitar begitu mendengar suara letusan senjata api dan melihat abangnya rubuh bersimbah darah. Doni merupakan adik Toto, pengusaha SPBU di Desa Seumadam. Saban malam ia menjemput adiknya, Taufik, yang bekerja di SPBU itu sekaligus membawa pulang uang hasil penjualan ke rumah. Namun saat tiba di depan rumah, korban ditembak dan uangnya dibawa kabur komplotan perampok itu.(md)

KUALA SIMPANG – Mendapatkan uang haram dengan cara menembak korban terjadi Kamis (23/7) pukul 00.40 WIB di Aceh Tamiang. Korbannya adalah Doni Patria Syahputra (29), pegawai Bank Mandiri, warga Dusun Setia, Desa Kesehatan, Tamiang. Meski didor, korban masih bertahan hidup dan sekarang dirawat intensif di Medan, Sumatera Utara.

Peristiwa penembakan itu terjadi hanya selang 12 jam dari kasus perampokan yang menimpa Mustafa (48), warga Blang Paseh, Kecamatan Langsa Kota, Rabu (22/7) siang. Dalam kasus perampokan uang dari dalam mobil korban itu, kawanan perampok berhasil melarikan uang tunai milik korban Rp 100 juta.

Menurut Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Drs Hariyanta, kepada Serambi, Kamis (23/7), korban Doni Patria dan adiknya Taufik (25) yang bertugas sebagai pengawas SPBU Seumadam milik abangnya, Toto, dirampok saat hendak memasuki pekarangan rumah mereka naik mobil di Desa Kesehatan. Kedua bersaudara itu baru saja kembali dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Seumadam milik abang mereka dengan membawa uang Rp 42 juta hasil penjualan minyak.

Sesampai di depan rumah, korban diancam dengan senjata api laras pendek (pistol) oleh empat pelaku. Doni Patria didor perampok yang bersepeda motor (sepmor) jenis Ninja. “Saat ini polisi sedang memburu keempat tersangka,” ujar Kapolres. Informasi tambahan yang diperoleh Serambi kemarin, setiap malam Doni mengambil uang hasil penjualan minyak SPBU milik abangnya untuk dibawa pulang ke rumah. Esoknya disetorkan ke bank.

Diduga, para pelaku mengintai dan menguntit korban yang bersama adiknya, Taufik, mengendarai mobil Katana BK 1774 EZ itu sampai ke depan rumahnya. Menjelang sepuluh meter lagi dari pintu pagar rumah, korban langsung didor perampok. Dengan cekatan para perampok mengambil uang yang ada di dalam mobil korban.

Doni diperkirakan ditembak saat baru turun dari mobil, ketika hendak membuka pintu pagar rumah. Sementara Taufik yang masih berada di dalam mobil luput dari aksi kekerasan perampok. Ia hanya berteriak histeris dan meminta tolong kepada warga sekitar begitu mendengar suara letusan bedil dan melihat abangnya rubuh bersimbah darah.

Doni merupakan adik Toto, pengusaha SPBU di Desa Seumadam. Saban malam ia menjemput adiknya, Taufik, yang bekerja di SPBU itu sekaligus membawa pulang uang hasil penjualan ke rumah. Uang yang dibawa malam itu, hendak disetorkan kepada abangnya yang tinggal serumah dengannya.

Ketika hampir sampai di depan rumah, korban langsung ditembak perampok dan uangnya dibawa kabur. Untungnya, tembakan yang mengenai tubuh Doni tidak menyebabkannya meregang nyawa. Setelah dievakuasi dari tempat kejadian dan mendapat pertolongan medis dari RSUD Tamiang, malam itu juga korban dirujuk ke sebuah rumah sakit di Medan, Sumatera Utara. (md)

SRB Pesimis Kasus Pencemaran Lingkungan Teratasi

Oleh : Chairu Dalpen

KabarGaWAT : Warga yang tergabung dalam Suara Rakyat Bersatu (SRB) kecewa dengan sikap Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang dan Anggota DPRK setempat, pasalnya hingga kini kasus dugaan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah Pabrik Kelapa Sawit PKS Tanjung Seumentoh di Kecamatan Karang Baru belum juga teratasi. Continue Reading »

Halaman Berikutnya »


  • Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.